“Kami hanya percaya pada Alkitab dan Alkitab secara keseluruhan sebagai satu-satunya aturan iman bagi orang Kristen!”
Anda mungkin pernah mendengar kata-kata ini dari seorang Protestan. Inilah inti doktrin Sola Scriptura — “Kitab Suci saja” — yang menyatakan bahwa Alkitab, sebagaimana ditafsirkan oleh orang beriman secara individu, adalah satu-satunya sumber otoritas dan satu-satunya aturan iman bagi orang Kristen.
Doktrin ini berasal dari Martin Luther, biarawan Jerman abad ke-16 yang memisahkan diri dari Gereja Katolik dan memulai Reformasi Protestan. Luther menolak Tradisi Suci serta otoritas pengajaran Gereja Katolik (dengan Paus sebagai pemimpinnya).
Gereja Katolik, sebaliknya, mengajarkan bahwa aturan iman adalah ajaran Gereja — yang mengambil ajarannya dari Wahyu Ilahi, baik Firman tertulis (Kitab Suci) maupun Firman lisan (Tradisi Suci). Magisterium (otoritas pengajaran Gereja yang dipimpin Paus) memiliki misi dari Tuhan untuk menafsirkan dan mengajarkan keduanya.
Berikut adalah 21 alasan — berdasarkan Alkitab, sejarah, dan logika — mengapa doktrin Sola Scriptura harus ditolak.
1. Sola Scriptura Tidak Diajarkan di Alkitab
Ini adalah alasan paling mendasar: tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mengajarkan Sola Scriptura. Doktrin ini menyangkal dirinya sendiri.
Kaum Protestan sering mengutip dua bagian:
2 Timotius 3:16-17 — “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat…”
Namun:
- Kata Yunani ōphelimos berarti “berguna”, bukan “cukup”. Air berguna untuk hidup — tapi tidak cukup; kita juga perlu makanan.
- “Kitab Suci” yang dimaksud Paulus adalah Perjanjian Lama (ayat 15: “sejak masa kanak-kanak”). Jika Sola Scriptura benar dari ayat ini, maka Perjanjian Lama sajalah satu-satunya aturan iman — posisi yang ditolak semua orang Kristen.
- Kata artios (“sempurna”) tidak berarti Kitab Suci adalah satu-satunya hal yang menyempurnakan. Yakobus 1:4 mengatakan kesabaran juga membuat kita sempurna.
Wahyu 22:18-19 — larangan menambah atau mengurangi
Namun:
- “Kitab ini” secara konteks adalah Kitab Wahyu, bukan seluruh Alkitab (yang belum ada saat itu).
- Larangan serupa di Ulangan 4:2 — jika ditafsirkan dengan cara yang sama, maka seluruh Perjanjian Baru akan “terlarang.”
2. Alkitab Memerintahkan Memegang Tradisi Lisan
2 Tesalonika 2:15: “Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”
Kata Yunani krateite berarti “berpegang teguh, menjadi kuat.” Paulus secara eksplisit memerintahkan umat untuk berpegang pada tradisi lisan dan tertulis. Dengan otoritas apa kaum Protestan menolak perintah Paulus ini?
1 Korintus 11:2: Paulus memuji jemaat Korintus karena memelihara tradisi yang ia wariskan.
3. Kanon Alkitab Tidak Ditetapkan oleh Alkitab
Alkitab tidak pernah memberikan daftar kitab-kitab mana yang termasuk di dalamnya. Gereja Katolik-lah yang — melalui Magisterium yang dibimbing Roh Kudus — menentukan kanon Alkitab pada Konsili Roma (382), Hippo (393), dan Kartago (397, 419).
Kaum Protestan menerima kanon Perjanjian Baru yang ditetapkan Gereja Katolik, namun anehnya menolak otoritas Gereja yang sama untuk Perjanjian Lama — membuang 7 kitab deuterokanonika.
4. Sola Scriptura Menimbulkan Pertanyaan: “Kitab Suci yang Mana?”
Jika Sola Scriptura benar, versi Alkitab yang mana yang merupakan otoritas final? KJV? NIV? RSV? Terjemahan Dunia Baru Saksi Yehuwa?
Beberapa terjemahan Protestan menerjemahkan paradoseis sebagai “ajaran” bukan “tradisi” — jelas karena bias teologis. Tanpa otoritas di luar Alkitab, tidak ada cara untuk menentukan versi mana yang benar.
5. Alkitab Tidak Tersedia bagi Setiap Orang Percaya hingga Abad ke-15
Sola Scriptura mengandaikan bahwa setiap orang percaya memiliki Alkitab. Namun kenyataannya, Alkitab tidak dapat diproduksi massal hingga mesin cetak abad ke-15.
Jutaan orang Kristen selama 15 abad pertama tidak memiliki akses ke Alkitab pribadi. Apakah Allah meninggalkan mereka tanpa otoritas final? Tentu tidak — Kristus mendirikan Gereja yang kelihatan untuk mengajar baik yang terpelajar maupun yang buta huruf.
6. Doktrin Sola Scriptura Tidak Ada Sebelum Abad ke-14
Doktrin ini tidak muncul hingga John Wycliffe (abad ke-14) dan baru tersebar luas melalui Martin Luther (abad ke-16). Tidak ada Bapa Gereja, konsili, atau tradisi Kristen mana pun yang mengajarkan Sola Scriptura selama 14 abad pertama Kekristenan.
7. Sola Scriptura Menghasilkan Buah Perpecahan
Jika Sola Scriptura benar, seharusnya kaum Protestan sepakat dalam doktrin. Kenyataannya: ribuan denominasi Protestan yang saling bertentangan — bahkan dalam isu-isu pokok seperti Ekaristi, keselamatan, dan pembenaran.
Kristus berdoa: “Supaya mereka semua menjadi satu” (Yohanes 17:21). “Dari buahnyalah pohon itu dikenal” (Matius 12:33).
8. Sola Scriptura Tidak Memungkinkan Penafsiran Final
Tiga orang Protestan mempelajari ayat yang sama — menghasilkan tafsiran X, Y, Z yang saling bertentangan. Tanpa otoritas yang tidak bisa salah, siapa yang menentukan mana yang benar? Setiap orang menjadi “paus”-nya sendiri — hasilnya relativisme doktrinal.
9. Alkitab Protestan Kehilangan 7 Kitab
Ironisnya, kaum Protestan melanggar Sola Scriptura dengan menghapus 7 kitab dari Perjanjian Lama: Tobit, Yudit, 1 & 2 Makabe, Kebijaksanaan, Sirakh, dan Barukh — plus bagian dari Daniel dan Ester.
Yesus dan para Rasul menggunakan Septuaginta (yang memuat kitab-kitab ini) dalam ~86% kutipan Perjanjian Lama di Perjanjian Baru. Luther bahkan ingin membuang Yakobus dan Wahyu.
10. “Jangan Menambahi” Adalah Pedang Bermata Dua
Jika Wahyu 22:18-19 “menutup” seluruh kanon, maka untuk 60+ tahun setelah Wahyu ditulis, orang Kristen tidak bisa menulis kitab Perjanjian Baru manapun — termasuk Injil Yohanes yang kemungkinan ditulis belakangan.
11-21. Ringkasan Alasan Tambahan
| # | Alasan Singkat |
|---|---|
| 11 | Tidak ada jaminan penafsiran pribadi yang benar — 2 Petrus 1:20 memperingatkan bahwa “tidak ada nubuat dalam Kitab Suci yang dapat ditafsirkan menurut kehendak sendiri” |
| 12 | Alkitab sendiri menunjukkan bahwa beberapa bagian sulit dipahami (2 Petrus 3:16) — diperlukan otoritas pengajaran |
| 13 | Model Perjanjian Lama: ada otoritas pengajaran yang kelihatan (imam, nabi, Sanhedrin) — bukan “Kitab Suci saja” |
| 14 | Kristus memberikan otoritas kepada Gereja, bukan kepada buku — “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku” (Lukas 10:16) |
| 15 | 1 Timotius 3:15: Gereja adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” — bukan Alkitab |
| 16 | Alkitab sendiri mencatat bahwa tidak semua ajaran Yesus ditulis (Yohanes 20:30; 21:25) |
| 17 | Para Rasul menyelesaikan perselisihan doktrinal melalui Konsili Yerusalem (Kisah 15) — bukan dengan mengatakan “kembalilah ke Kitab Suci masing-masing” |
| 18 | Konsili Yerusalem berkata: “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami” (Kisah 15:28) — Gereja berbicara dengan otoritas ilahi |
| 19 | Doktrin Tritunggal dan formula baptisan Trinitarian — tidak pernah dirumuskan secara eksplisit dari “Alkitab saja” tanpa Tradisi dan Magisterium |
| 20 | Matius 28:20: Kristus berjanji menyertai Gereja-Nya “sampai akhir zaman” — bukan menyertai setiap pembaca Alkitab individu |
| 21 | Doktrin Sola Scriptura berakar pada masalah psikologis Luther sendiri — ketelitian (scrupulosity), rasa bersalah obsesif, dan ketidakmampuan melawan godaan. Ia menolak otoritas Gereja yang menuntut pertobatan dan perbuatan baik, menggantinya dengan “iman saja” dan “Kitab Suci saja” |
Kesimpulan: Aturan Iman yang Sejati
Dua puluh satu alasan ini — dari Alkitab, sejarah, dan logika — menunjukkan bahwa Sola Scriptura adalah doktrin buatan manusia, bukan ajaran Kristus atau para Rasul.
Aturan iman yang benar bagi pengikut Kristus adalah:
Aturan iman langsung adalah ajaran Gereja. Gereja mengambil ajarannya dari Wahyu Ilahi — baik Firman tertulis (Kitab Suci) maupun Firman lisan (Tradisi Suci). Magisterium Gereja Katolik, yang dipimpin Paus, memiliki misi dari Tuhan untuk menafsirkan dan mengajarkan keduanya.
Hanya dengan menerima aturan iman yang lengkap inilah — Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium — para pengikut Kristus tahu bahwa mereka mengikuti semua hal yang Kristus perintahkan (Matius 28:20).
Referensi
- Peters, Joel. Scripture Alone?: 21 Reasons to Reject Sola Scriptura. TAN Books, 1999.
- Katekismus Gereja Katolik, §§74-100 — Hubungan antara Tradisi, Kitab Suci, dan Magisterium.
- Dei Verbum (Konsili Vatikan II) — Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi.
- Akin, Jimmy. The Fathers Know Best: Your Essential Guide to the Teachings of the Early Church. Catholic Answers, 2010.
Artikel ini disusun berdasarkan karya Joel Peters, “Scripture Alone?: 21 Reasons to Reject Sola Scriptura” (TAN Books, 1999). Seluruh argumen telah diverifikasi dengan referensi Alkitabiah, patristik, dan historis.