Ketika kita membaca Perjanjian Lama dalam bahasa Indonesia hari ini, kita memegang hasil dari perjalanan panjang lebih dari 3.000 tahun. Dari lidah para nabi Ibrani, melalui pena para penyalin Masoret, ke meja kerja Santo Hieronimus, hingga edisi kritis modern — setiap tahap adalah kisah tentang pemeliharaan ilahi dan dedikasi manusia terhadap Firman Allah.
Artikel ini menelusuri perjalanan singkat naskah Perjanjian Lama: bahasa aslinya, para penjaga teks, dan edisi-edisi kritis yang kita gunakan hari ini.
1. Bahasa Asli: Ibrani dan Aram
Perjanjian Lama tidak ditulis dalam satu bahasa. Sekitar 90% ditulis dalam Ibrani Klasik (Biblical Hebrew) — bahasa liturgi dan sastra bangsa Israel kuno. Kitab-kitab seperti Kejadian, Mazmur, dan Yesaya seluruhnya dalam bahasa Ibrani.
Namun ada bagian-bagian yang ditulis dalam bahasa Aram, lingua franca Timur Tengah kuno setelah pembuangan ke Babel (abad ke-6 SM):
| Kitab | Bagian dalam Aram |
|---|---|
| Daniel | 2:4 – 7:28 (hampir seluruhnya) |
| Ezra | 4:8 – 6:18; 7:12–26 (dokumen resmi) |
| Yeremia | 10:11 (satu ayat) |
Mengapa Aram? Karena setelah pembuangan Babel, bahasa Aram menjadi bahasa pergaulan internasional. Dokumen-dokumen resmi dan wahyu yang ditujukan untuk kerajaan asing menggunakan Aram agar dapat dipahami audiens yang lebih luas.
Ibrani dan Aram adalah dua bahasa berbeda, tetapi berkerabat erat — keduanya termasuk rumpun bahasa Semitik Barat.
2. Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS): Standar Akademik Modern
Untuk mempelajari Perjanjian Lama dalam bahasa aslinya, para sarjana menggunakan Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS).
| Detail | Informasi |
|---|---|
| Nama lengkap | Biblia Hebraica Stuttgartensia |
| Terbit pertama | 1967 (bertahap), edisi lengkap 1977 |
| Penerbit | Deutsche Bibelgesellschaft, Stuttgart |
| Dasar teks | Codex Leningradensis (1008 M) |
| Pendahulu | Biblia Hebraica Kittel (BHK, 1906–1937) |
| Penerus | Biblia Hebraica Quinta (BHQ, sejak 2004) |
BHS menampilkan teks Ibrani yang sangat akurat dari Codex Leningradensis, dilengkapi dengan apparatus kritik di bagian bawah halaman yang mencatat variasi tekstual dari Gulungan Laut Mati, Septuaginta, Pentateukh Samaria, dan Peshitta.
3. Codex Leningradensis: Naskah Lengkap Tertua
![Codex Leningradensis]
Codex Leningradensis (B19A) adalah naskah Ibrani lengkap tertua dari seluruh Tanakh yang masih utuh hingga saat ini.
| Detail | Informasi |
|---|---|
| Tahun pembuatan | 1008 M |
| Tempat pembuatan | Kairo, Mesir |
| Penyalin | Shelomoh ben Buya |
| Berdasarkan | Metode Aharon ben Asher (Tiberias) |
| Lokasi sekarang | Perpustakaan Nasional Rusia, St. Petersburg |
Perjalanan Kepemilikan
- Kairo, Mesir (1008 – abad ke-15/16): Dibuat dan digunakan komunitas Yahudi di Mesir
- Kopenhagen, Denmark (akhir abad ke-19): Dibawa ke Eropa, disimpan di Perpustakaan Universitas Kopenhagen
- Leningrad, Rusia (awal abad ke-20): Dipinjamkan untuk proyek edisi kritis, tidak dikembalikan, tetap di Rusia hingga kini
Nama “Leningradensis” merujuk pada tempat penyimpanannya saat dipublikasikan secara akademik, bukan tempat asalnya. Ini praktik umum dalam penamaan naskah kuno.
Perbandingan dengan Naskah Lain
| Naskah | Tanggal | Kondisi |
|---|---|---|
| Codex Leningradensis | 1008 M | ✅ Lengkap — dasar BHS |
| Codex Aleppo | 930 M | ❌ Hilang sebagian (termasuk Taurat) |
| Gulungan Laut Mati | 250 SM – 70 M | Fragmentaris, menunjukkan variasi teks |
| Pentateukh Samaria | Abad pertengahan | Hanya Taurat |
4. Para Masore dari Tiberias: Penjaga Tradisi
Siapakah yang memastikan bahwa teks Ibrani Alkitab tetap akurat selama berabad-abad? Jawabannya: para Masore dari Tiberias.
Kata Masore berasal dari bahasa Ibrani מָסוֹרֶת (masoret) — “tradisi” atau “penyerahan.” Mereka adalah sekelompok ahli teks Yahudi yang hidup antara abad ke-6 hingga ke-10 M di Tiberias, kota di pantai Laut Galilea.
Mengapa Tiberias?
Setelah kehancuran Yerusalem (70 M), Tiberias menjadi pusat utama studi Alkitab Ibrani. Tiga keluarga Masore bekerja di sana:
- Keluarga ben Asher (paling terkenal dan otoritatif)
- Keluarga ben Naphtali
- Keluarga dari Yerusalem (kurang dikenal)
Apa yang Mereka Lakukan?
- Menambahkan sistem vokal (nikkud) — Bahasa Ibrani kuno hanya ditulis dengan konsonan. Para Masore menciptakan tanda-tanda kecil di atas dan bawah huruf untuk menunjukkan vokal.
- Menambahkan tanda baca liturgi (te’amim) — untuk intonasi saat pembacaan ibadah.
- Mencatat Masora — catatan di margin yang mencatat jumlah kemunculan kata, ejaan tidak biasa, dan peringatan bagi penyalin.
- Menghitung dan memverifikasi — misalnya: “Huruf tengah dalam Taurat adalah mem di Ulangan 6:3.”
Tanpa kerja keras para Masore selama 400 tahun, teks Alkitab Ibrani mungkin tidak akan bertahan dengan akurat hingga hari ini.
Aharon ben Asher — Tokoh Kunci
Aharon ben Asher (abad ke-9 M) dianggap sebagai puncak tradisi Masore Tiberias. Maimonides sendiri menulis:
“Semua naskah di dunia tidak seakurat naskah yang dibuat oleh keluarga Aharon ben Asher di Tiberias.”
Codex Leningradensis secara eksplisit menyatakan bahwa ia disalin berdasarkan metode Aharon ben Asher.
5. Santo Hieronimus dan Metode Penerjemahan Vulgata
Pada abad ke-4, Gereja Barat menghadapi masalah: banyak versi Latin kuno (Vetus Latina) yang beredar — tidak konsisten, kualitas bervariasi, dan diterjemahkan dari Septuaginta (Yunani), bukan dari bahasa Ibrani asli.
Paus Damasus I menugaskan Santo Hieronimus (St. Jerome) untuk merevisi dan menciptakan versi Latin standar.
Dua Pilar Metode Hieronimus
Pilar 1: Makna-demi-Makna (Ad Sensum)
Hieronimus menolak metode kata-demi-kata (verbum e verbo). Prinsipnya yang terkenal:
“Non verbum e verbo, sed sensum exprimere de sensu.” (Bukan menerjemahkan kata per kata, tetapi mengungkapkan makna dari makna.)
Namun untuk Kitab Suci, ia lebih berhati-hati: “Bahkan susunan kata-katanya pun adalah sebuah misteri.”
Pilar 2: Kembali ke Sumber Asli (Hebraica Veritas)
Ini adalah langkah paling radikal dan kontroversial. Hieronimus memutuskan untuk menerjemahkan Perjanjian Lama langsung dari bahasa Ibrani asli, bukan dari Septuaginta. Prinsipnya:
- Teks Ibrani adalah sumber asli yang diilhamkan secara ilahi
- Septuaginta sendiri adalah terjemahan — menerjemahkan dari terjemahan berisiko melipatgandakan kesalahan
Keputusan ini ditentang banyak orang, termasuk Santo Agustinus. Namun Hieronimus bergeming — ia pindah ke Betlehem, belajar bahasa Ibrani dari para rabi Yahudi, dan bekerja selama puluhan tahun.
Hasilnya adalah Vulgata Latin — mahakarya yang menjadi teks standar Gereja Barat selama lebih dari 1.500 tahun, dan kemudian dinyatakan sebagai teks “otentik” oleh Konsili Trente (1546).
6. Warisan yang Hidup
Perjalanan naskah Perjanjian Lama adalah kisah tentang kesetiaan ganda: kesetiaan Allah dalam memelihara Firman-Nya, dan kesetiaan manusia — para nabi, penyalin, Masore, dan penerjemah — dalam meneruskan warisan suci ini.
| Era | Pencapaian |
|---|---|
| Abad 10–5 SM | Penulisan dalam bahasa Ibrani dan Aram |
| Abad 6–10 M | Para Masore menstandarisasi teks dengan nikkud dan Masora |
| 1008 M | Codex Leningradensis — naskah lengkap tertua |
| 382–405 M | Hieronimus menyelesaikan Vulgata Latin |
| 1546 | Konsili Trente meneguhkan kanon dan otoritas Vulgata |
| 1977 | Biblia Hebraica Stuttgartensia edisi lengkap |
Ketika kita membuka Alkitab hari ini, kita tidak membaca teks yang jatuh dari langit. Kita membaca teks yang dirawat dengan darah, keringat, dan doa — oleh para penjaga tradisi yang namanya bahkan tidak kita kenal.
“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman-Ku tidak akan berlalu.” — Matius 24:35
Referensi
- Biblia Hebraica Stuttgartensia (BHS). Deutsche Bibelgesellschaft, Stuttgart, 1977.
- Würthwein, Ernst. The Text of the Old Testament. Eerdmans, 2014.
- Tov, Emanuel. Textual Criticism of the Hebrew Bible. Fortress Press, 2012.
- Codex Leningradensis (B19A) — Perpustakaan Nasional Rusia, St. Petersburg.
- Hieronimus. Surat kepada Pammachius (De Optimo Genere Interpretandi) — prinsip ad sensum.
- Kelly, J.N.D. Jerome: His Life, Writings, and Controversies. Harper & Row, 1975.
- Maimonides. Mishneh Torah, Sefer Ahavah, Hilkhot Sefer Torah.
Artikel ini disusun berdasarkan analisis historis transmisi naskah Perjanjian Lama dari era Alkitabiah hingga edisi kritis modern. Seluruh data diverifikasi dari sumber-sumber akademik standar.