Damai Kasih Channel
DKC
Damai Kasih Channel
Home

Menggugat Sang Penafsir Tunggal Membongkar Kesesatan Ahistoris Pembaca Alkitab "Polosan"

Membongkar klaim eksklusivisme tafsir literalisme biblis yang mengabaikan dua milenium tradisi iman Kristen

Tim DKC ·
Bagikan:
Menggugat Sang Penafsir Tunggal Membongkar Kesesatan Ahistoris Pembaca Alkitab "Polosan"
100%
Daftar Isi

Sungguh sebuah pemandangan yang menghibur di era digital ini. Kita disuguhi sebuah fenomena memukau di mana seseorang, dengan penuh kerendahan hati palsu mengaku “bukan siapa-siapa dan tidak punya gelar perguruan tinggi,” namun pada detik berikutnya dengan gagah berani membatalkan dua milenium konsensus iman Kristen di seluruh dunia. Dilihat dari kacamata sejarah dan peribadatan, ini adalah pertunjukan klasik dari apa yang disebut sebagai ‘eksklusivisme tafsir’ , sebuah rabun sejarah di mana seseorang merasa mendapat pencerahan eksklusif yang diklaim terlewatkan oleh miliaran umat lainnya. Melalui sebuah video berdurasi sepuluh menit, sang pembicara dari saluran “Fakta Israel” menobatkan dirinya sebagai otoritas tertinggi penafsiran Kitab Suci , melampaui para rasul , Bapa Gereja , dan seluruh tradisi Kekristenan.

Tesisnya sungguh revolusioner—dalam artian yang paling memprihatinkan. Ia mengklaim bahwa istilah “Jumat Agung” tidak berdasar, bahwa Paskah murni hanya merujuk pada hari kematian Yesus , dan bahwa kebangkitan-Nya semata-mata harus dilabeli “Hari Buah Sulung,” murni berpatokan pada pembacaan kaku atas Kitab Imamat pasal 23 . Mari kita bedah klaim-klaim heroik ini dengan pisau bedah akal budi, sejarah, dan ajaran Gereja yang sesungguhnya. Di sinilah kita melihat perlunya melibatkan berbagai disiplin ilmu—mulai dari sejarah kuno, temuan peninggalan ritus masa lampau, hingga kajian perilaku manusia—untuk membongkar betapa rapuhnya bangunan argumen yang ia dirikan.

Penyakit Mematikan Bernama Literalisme Biblis

Sang pembicara mengajukan satu pertanyaan yang seolah-olah mematikan: “Kalau Bapak Ibu mengatakan hari kematian Tuhan Yesua di kayu salib ini sebagai Jumat agung rujukannya di mana imamat yang mana?”

Sungguh sebuah argumen yang menggelitik. Nalar yang dibangun adalah: jika sebuah istilah tidak tercetak secara persis di dalam teks Sabda Allah (khususnya Perjanjian Lama ), maka istilah itu salah dan tidak boleh dipakai. Pola pikir ini lahir dari apa yang disebut sebagai literalisme biblis (pembacaan teks secara kaku huruf per huruf tanpa memahami konteks sejarah dan bahasa).

Paus Yohanes Paulus II , dalam ensikliknya yang masyhur mengenai relasi antara iman dan akal budi, menyoroti bahaya nyata dari pendekatan semacam ini. Beliau menulis:

“Maka, ada gejala-gejala kemunduran… Sebagian orang cenderung berpegang pada fideisme, yang tidak mau mengakui pentingnya pengetahuan rasional… Salah satu ungkapan ekstrem pandangan ini ialah ‘tradisionalisme’ yang salah, begitu pula ‘biblisisme’ yang membuat pembacaan Sabda Allah tertutup bagi pencarian makna rohani yang hakiki” ( Fides et Ratio , Nomor 55, Seri Dokumen Gerejawi No. 59, Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1999, hlm. 72).

Mengurung kekayaan Sabda Allah hanya pada apa yang tertulis secara jasmaniah di atas perkamen tanpa melibatkan rasio dan bimbingan Roh Kudus dalam rentang zaman adalah pengingkaran terhadap hakikat Sabda itu sendiri yang telah menjadi Manusia.

Mari kita gunakan standar bernalar sang pembicara untuk menguji dirinya sendiri. Di manakah kata “Alkitab” muncul di dalam naskah asli Ibrani atau Yunani? Tidak ada. Kata tersebut adalah kata serapan dari bahasa Arab ( Al-Kitab ). Di manakah konsep dan kata “Tritunggal” (Trinitas) tertulis secara lahiriah dalam Imamat 23 atau di seluruh Perjanjian Baru ? Nol besar. Jika kita menuruti nalar sang pembicara, kita harus membuang dogma Tritunggal karena “tidak ada ayatnya secara tertulis jasmaniah.”

Istilah “Jumat Agung” (dalam bahasa Inggris Good Friday , atau dalam tradisi Latin Feria Sexta in Parasceve yang berarti Hari Keenam pada masa Persiapan) adalah nomenklatur liturgis (penamaan dalam ibadah Gereja). Gereja menggunakan istilah ini untuk menandai kebesaran hari di mana Sang Penebus menyerahkan nyawa-Nya. Gereja Katolik tidak pernah mengklaim bahwa istilah “Jumat Agung” turun dari langit dan tertulis di Kitab Imamat . Penamaan ini adalah produk dari perkembangan

tradisi umat perdana dalam merayakan ritus penebusan. Memaksa kekayaan bahasa ibadah untuk tunduk pada pembacaan kaku Perjanjian Lama adalah bentuk pemiskinan penalaran.

Keagungan Perjanjian Baru: Bayang-bayang yang Pudar oleh Terang Kristus

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu ditegaskan bahwa Gereja Katolik tidak pernah membenci atau meremehkan Kitab Imamat 23 . Sebaliknya, Gereja sangat menghargai akar Yahudi dari ibadah Kristen. Imamat 23 adalah bayang-bayang yang sangat indah, sebuah pratanda atau gambaran awal ( typology ) dari karya penyelamatan yang akan datang. Namun, Santo Paulus memperingatkan kita dengan sangat benderang:

“Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” ( Kolose 2:17 , Alkitab Deuterokanonika , Lembaga Alkitab Indonesia, 2004).

Mengakui kesinambungan antara Paskah Yahudi (pembebasan dari perbudakan Mesir) dan Paskah Baru (pembebasan dari perbudakan dosa) adalah keniscayaan iman. Namun, menuntut umat Kristen saat ini untuk membuang kekayaan makna Paskah Kristus dan memaksakan diri kembali pada batasan perayaan harfiah Imamat 23 sama halnya dengan menyuruh seseorang yang sudah berdiri di bawah terik matahari yang terang benderang untuk kembali merangkak masuk ke dalam goa yang gelap. Kristus tidak datang untuk sekadar menjadi pemeran pengganti dalam drama kalender Yahudi kuno; Ia datang untuk memperbarui segala sesuatu, membawa ciptaan baru yang melampaui batasan ritual jasmaniah masa lampau.

Bukti Historis dan Arkeologis: Menelusuri Jejak Jumat Agung di Yerusalem

Untuk menyadarkan sang pembicara bahwa penamaan hari-hari suci bukanlah karangan bebas abad pertengahan, kita harus menengok pada catatan ziarah masa lampau yang tiada tandingannya dari abad keempat, yakni Itinerarium Egeriae ( Catatan Perjalanan Egeria ). Egeria , seorang peziarah wanita dari Eropa Barat yang mengunjungi Tanah Suci sekitar

tahun 381-384 Masehi, mencatat dengan sangat gamblang bagaimana umat Kristen di Yerusalem merayakan Pekan Suci.

Dalam buku hariannya, ia mendeskripsikan secara khusus ritual yang dilakukan umat pada hari Jumat sebelum Paskah:

“Kemudian, apabila hari telah menjelang pagi, semua orang pergi… ke hadapan Salib… Dan dari jam enam sampai jam sembilan, tidak ada hal lain yang dilakukan selain pembacaan bagian-bagian Kitab Suci dan nyanyian puji-pujian, untuk menunjukkan kepada umat bahwa apa pun yang dinubuatkan para nabi tentang sengsara Tuhan, semuanya sungguh-sungguh terjadi” ( Egeria : Diary of a Pilgrimage , diterjemahkan oleh George E. Gingras, Newman Press, 1970, Nomor 37, hlm. 109).

Sejak awal abad ke-4, Gereja di Yerusalem telah memiliki kekhususan peribadatan untuk memperingati penderitaan dan kematian Kristus pada hari Jumat, yang seiring berjalannya waktu disempurnakan sebutannya menjadi Jumat Agung di berbagai ritus. Penolakan terhadap istilah ini dengan dalih Imamat 23 menunjukkan kebutaan total terhadap realitas hidup umat Kristen purba yang mewarisi situs-situs suci tempat penderitaan Kristus itu sendiri terjadi secara fisik.

Pemisahan Buatan: Mengoyak Misteri Paskah

Sang pembicara dengan sangat yakin memisahkan peristiwa keselamatan: Kematian adalah Paskah , Kebangkitan adalah Buah Sulung . Secara tipologis (ilmu yang mempelajari bagaimana tokoh/peristiwa Perjanjian Lama menjadi bayang-bayang Perjanjian Baru), Yesus memang menggenapi seluruh hari raya Yahudi. Santo Paulus sendiri menulis:

“Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” ( 1 Korintus 5:7 ) “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” ( 1 Korintus 15:20 )

Namun, kesalahan fatal sang pembicara adalah gagal memahami konsep Mysterium Paschale ( Misteri Paskah ). Dalam ajaran Katolik, sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus bukanlah sekumpulan kepingan penafsiran

historis yang terpisah-pisah, melainkan satu kesatuan tak terpisahkan dari karya keselamatan . Anda tidak bisa merayakan kematian-Nya tanpa memandang pada kebangkitan-Nya, karena salib tanpa kebangkitan hanyalah sebuah tragedi eksekusi kriminal Romawi yang gagal.

Santo Thomas Aquinas , seorang raksasa pemikir dan pujangga Gereja abad ke-13, mengartikulasikan keniscayaan kesatuan ini dalam karya agungnya. Beliau menegaskan bahwa kebangkitan tidak bisa dipandang sebagai entitas terpisah dari penderitaan Kristus , melainkan sebagai penyelesaian kodrati dari keadilan Allah atas ketaatan Kristus yang sempurna. Aquinas menulis:

“Oleh karena itu, karena Kristus telah merendahkan diri-Nya bahkan sampai mati di kayu salib demi ketaatan dan kasih kepada Allah, maka sangatlah adil bahwa Ia ditinggikan oleh Allah, bahkan hingga kebangkitan yang mulia” ( Summa Theologiae , Bagian Ketiga, Pertanyaan 53, Artikel 1, diterjemahkan oleh Fathers of the English Dominican Province, Benziger Bros, 1947, hlm. 2291).

Kematian ( Sang Anak Domba ) dan Kebangkitan ( Sang Buah Sulung ) adalah dua sisi mata uang yang sama dari rancangan penebusan. Katekismus Gereja Katolik (KGK) memberikan pencerahan yang sangat benderang mengenai hal ini:

“Oleh karena itu Paskah bukan sekadar satu hari raya di antara hari-hari raya yang lain, melainkan ‘Hari Raya dari segala hari raya’, ‘Perayaan dari segala perayaan’… Misteri Kebangkitan, di mana Kristus telah mengalahkan maut, meresapi masa kita yang lama ini dengan energi ilahi yang kuat, sampai semuanya ditaklukkan di bawah Dia.” ( KGK 1169 , Konferensi Waligereja Indonesia, 1995, hlm. 351) Gereja Katolik merayakan Paskah ( Pascha ) sebagai satu realitas menyeluruh: Dia yang disalibkan adalah Dia yang bangkit. Dengan memaksakan pemisahan istilah demi memuaskan obsesi pada kalender Imamat 23 , sang pembicara justru mereduksi keagungan karya Kristus yang tidak lagi terikat pada bayang-bayang masa lalu, melainkan telah menciptakan realitas ciptaan yang baru.

Kesaksian Sejarah: Menampar Klaim Ahistoris

Ada keangkuhan tertentu ketika seseorang di abad ke-21 mengira dirinya lebih mengerti cara merayakan Paskah dibandingkan para Bapa Gereja yang hidup di abad pertama dan kedua—orang-orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Yunani dan Aram, dan yang menerima pengajaran langsung dari murid-murid para Rasul .

Mari kita buka dokumen Didache , atau “Ajaran Kedua Belas Rasul” , sebuah panduan tata tertib jemaat Kristen paling awal yang diperkirakan berasal dari akhir abad pertama. Mengenai peribadatan utama umat, teks ini tidak pernah menyinggung kewajiban merayakan kalender Yahudi kuno, melainkan menegaskan titik kumpul pada hari kebangkitan:

“Setiap Hari Tuhan berkumpullah kamu, pecahkanlah roti dan ucapkanlah syukur…” ( Didache , Pasal 14, Nomor 1, diterjemahkan oleh JB. Banawiratma dalam ‘Dokumen-dokumen Gereja Perdana’, Kanisius, 1985, hlm. 25).

Hari Tuhan atau Minggu (hari kebangkitan) menggantikan dominasi Sabat dan hari-hari raya lama, karena kebangkitan adalah inti detak jantung keimanan umat Kristen mula-mula. Sejak awal, umat Kristen perdana merayakan Pascha ( Paskah ). Apakah mereka merayakan Pascha hanya sebagai hari kematian? Mari kita dengar kesaksian sejarah lainnya.

Melito dari Sardis , seorang uskup pada abad kedua (sekitar tahun 170 Masehi), menulis sebuah homili termasyhur berjudul Peri Pascha ( Tentang Paskah ). Dalam naskah kuno tersebut, Paskah dipahami bukan sekadar penyembelihan domba, melainkan kemenangan total Kristus atas maut:

“Dialah Sang Paskah keselamatan kita… Dialah yang melepaskan kita dari perbudakan menuju kebebasan, dari kegelapan menuju terang, dari maut menuju kehidupan, dari penindasan menuju kerajaan kekal. Ia adalah Paskah yang baru… Sang Tuhan, meskipun Ia Allah, menjadi manusia; Ia menderita bagi dia yang menderita… Ia bangkit dari antara orang mati dan berseru: Siapa yang berani berdebat dengan-Ku? Biarkan ia berdiri di hadapan-Ku. Aku telah membebaskan manusia yang terhukum; Aku telah menghidupkan kembali mereka yang mati; Aku telah membangkitkan

mereka dari kubur. Siapakah yang menentang-Ku? Akulah, kata-Nya, Sang Kristus; Akulah yang menghancurkan maut, dan menang atas musuh, dan menginjak-injak neraka.” ( Melito dari Sardis , Peri Pascha , terjemahan dari teks Yunani kuno, paragraf 65-71, diterbitkan dalam Kerigma Bapa Gereja , 2010).

Melito dari Sardis menyebut kebangkitan dan kemenangan atas maut itu sebagai inti dari Pascha itu sendiri. Gereja perdana tidak menyebut hari Minggu Kebangkitan sebagai sekadar “Hari Buah Sulung” yang terlepas dari Paskah . Kebangkitan justru adalah puncak dari Paskah itu sendiri.

Sang pembicara YouTube ini seolah-olah menemukan kembali kebenaran yang hilang, padahal ia hanya sedang tersesat dalam ketidaktahuannya mengenai bagaimana orang Kristen mula-mula beribadah. Ia mengabaikan ribuan halaman bukti tulisan para Bapa Gereja yang menunjukkan bahwa perayaan Paskah Kristen selalu memeluk kebangkitan dengan penuh sorak-sorai.

Anatomi Kebutaan Sejarah: Menelaah Klaim Kebenaran Eksklusif

Mari kita gali pernyataan sang pembicara yang mengaku “bukan siapa-siapa… bukan lulusan STT… orang-orang yang mungkin bodoh di mata dunia.” Kalimat ini dirancang untuk mendulang simpati, memposisikan dirinya sebagai Daud yang lugu melawan Goliat institusi Gereja yang dianggap buta. Praktik merendahkan diri untuk meninggikan kehebatan pendapat pribadinya ini sering kali merupakan kedok dari kecenderungan kesombongan penafsiran yang ahistoris . Biarlah bukti sejarah yang menelanjangi rapuhnya argumen tersebut, melampaui sekadar retorika merasa paling benar.

Santo Irenaeus dari Lyon , seorang pengawal iman dari abad ke-2, pernah berhadapan dengan kelompok Gnostik yang memiliki kelakuan persis seperti ini. Mereka merasa menemukan sandi rahasia dalam Kitab Suci yang luput dari pandangan jemaat yang diakui para rasul . Irenaeus dengan telak menelanjangi kesombongan mereka:

“Tetapi apabila mereka berargumen berangkat dari Kitab Suci, mereka menyimpangkan maknanya dan menyesuaikan kata-kata itu dengan fiksi

buatan mereka sendiri. Dan dengan demikian mereka membual… bahwa mereka, secara pribadi dan sendiri, telah menemukan kebenaran yang tak bernoda” ( Adversus Haereses , Buku III, Bab 2, Nomor 1-2, diterjemahkan dalam ‘Koleksi Bapa Gereja Anti-Nicene Volume 1’, Wm. B. Eerdmans Publishing, 1956, hlm. 415).

Sang pembicara mengulangi pola bidat kuno: menolak otoritas yang sah, mengoyak teks dari bingkai organik kehidupan Gereja, dan menyodorkannya sebagai temuan mutakhir. Dampak rohaniahnya sangat merusak, sebab hal ini melatih pendengarnya untuk menanam kecurigaan kronis terhadap para gembala dan tradisi yang telah dihidupi para kudus selama belasan abad, hanya demi menuruti penafsiran amatiran seseorang di sebuah kanal tontonan daring.

Menggugat Standar Ganda: Mengandalkan Kitab Suci, Membuang Gereja yang Menyusunnya

“Bukan saya yang menentukan kebenaran itu tapi Alkitab,” begitu sabda sang pembicara di akhir videonya. Kalimat ini terdengar sangat saleh, namun menyimpan kecacatan nalar yang luar biasa parah.

Sabda Allah tidak turun dari langit dalam bentuk satu buku bersampul kulit dan bernomor halaman. Kitab Suci yang dibaca oleh sang pembicara (terdiri dari 66 kitab menurut kanon perpecahan abad ke-16, atau 73 kitab menurut kanon Katolik ) disusun, diseleksi, dan disahkan daftarnya oleh otoritas Gereja melalui berbagai konsili di abad-abad awal (seperti Konsili Roma, Hippo, dan Kartago ).

Menerima pedoman tertulis tersebut sebagai wibawa mutlak, namun pada saat yang sama membuang dan menyalahkan Tradisi Suci dan wewenang mengajar Gereja ( Magisterium ) yang menentukan mana kitab yang masuk ke dalam daftar resmi dan mana yang tidak, adalah sebuah tindakan bunuh diri nalar. Anda tidak bisa mempercayai dokumen yang disahkan oleh suatu lembaga, sembari mengklaim lembaga tersebut selalu salah dalam mengartikan dokumen yang mereka susun sendiri.

Konstitusi mengenai tata peribadatan suci ( Sacrosanctum Concilium ) dari Konsili Vatikan II menegaskan dengan sangat indah bagaimana

Gereja memahami penggenapan ini:

“Rahasia Paskah itu dirayakan oleh Gereja sekali seminggu, pada hari yang oleh karena itu disebut hari Tuhan atau hari Minggu. Pada hari itu umat beriman wajib berkumpul, supaya dengan mendengarkan sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi mereka mengenangkan sengsara, kebangkitan, dan kemuliaan Tuhan Yesus, dan mengucap syukur kepada Allah…” ( Sacrosanctum Concilium , Artikel 106, Dokumen Konsili Vatikan II , Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1993, hlm. 104).

Bagi Gereja Katolik, Yesus tidak sekadar mencentang daftar perayaan Imamat 23 seperti seorang birokrat yang sedang memeriksa kalender Yahudi. Yesus merobek selubung Bait Suci dan mengubah makna perayaan tersebut selamanya.

Kesimpulan

Pada akhirnya, video dari “Fakta Israel” ini adalah contoh sempurna dari apa yang terjadi ketika semangat keberagamaan tidak diimbangi dengan wawasan sejarah yang luas dan kerendahan hati untuk belajar dari kekayaan warisan Gereja yang usianya mencapai dua ribu tahun. Dengan dalih “kembali ke naskah asli,” sang pembicara sebenarnya sedang menarik mundur Kekristenan ke dalam bingkai Perjanjian Lama yang belum rampung. Ia memaksa anggur baru dari Paskah Kristus untuk masuk ke dalam kantong kulit tua kalender ritual Yahudi kuno yang kaku.

Gereja Katolik akan terus menyebut Jumat Agung sebagai Jumat Agung , karena pada hari itulah kemegahan cinta kasih Allah memuncak di kayu salib. Gereja akan terus berseru “Selamat Paskah” pada hari Minggu Kebangkitan, karena Paskah (Peralihan) kita yang sejati tidak hanya berhenti pada kematian, tetapi bermuara pada kubur yang kosong. Biarlah mereka yang gemar berkutat pada perdebatan istilah sibuk membolak-balik Imamat 23 , sementara Gereja Katolik terus melangkah maju, menghidupi Misteri Paskah , memecah Roti Kehidupan, dan mewartakan Kristus yang telah wafat dan bangkit, hingga Ia datang kembali dengan segala kemuliaan-Nya.

Daftar Referensi:

  • Konferensi Waligereja Indonesia . (1995). Katekismus Gereja Katolik . Ende: Nusa Indah.

  • Paus Yohanes Paulus II . (1999). Fides et Ratio (Ensiklik mengenai Relasi antara Iman dan Akal Budi). Seri Dokumen Gerejawi No. 59. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

  • Konferensi Waligereja Indonesia (Departemen Dokumentasi dan Penerangan). (1993). Dokumen Konsili Vatikan II . Jakarta: Obor. (Merujuk pada Konstitusi Sacrosanctum Concilium ).

  • Aquinas, Thomas . (1947). Summa Theologiae . Diterjemahkan oleh Fathers of the English Dominican Province. New York: Benziger Bros.

  • Egeria . (1970). Diary of a Pilgrimage . Diterjemahkan oleh George E. Gingras. New York: Newman Press.

  • Irenaeus dari Lyon . (1956). Adversus Haereses (Melawan Ajaran Sesat). Dalam Ante-Nicene Fathers Volume 1 . Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing.

  • Ajaran Kedua Belas Rasul ( Didache ). (1985). Diterjemahkan oleh JB. Banawiratma dalam Dokumen-dokumen Gereja Perdana . Yogyakarta: Kanisius.

  • Melito dari Sardis . (~170 M). Peri Pascha ( Tentang Paskah ). Diterbitkan dalam Kerigma Bapa Gereja (2010).

  • Alkitab Deuterokanonika . (2004). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Artikel Terkait